Oleh :

Dr. Rizasyah Daud, M.Sc.

Dokter Ahli Penyakit Dalam, R.S. AZRA – Bogor

 

Apakah osteoporosis itu?

            Osteoporosis atau yang dikenal sebagai penyakit keropos tulang  adalah suatu penyakit yang ditandai dengan terjadinya kerapuhan tulang. Tulang dapat menjadi sedemikian rapuh sehingga aktivitas ringan seja seperti membungkuk atau mengangkat barang yang sebenarnya tidak begitu berat atau bahkan batuk saja dapat menyebabkan fraktur atau patah tulang. Fraktur tulang belakang umumnya akan menyebabkan “compression fracture” yang dapat menyebabkan nyeri kronik, perubahan posture tubuh   yang yang khas serta gangguan fungsi paru sampai kesulitan bernafas. Fraktur tulang panjang atau tulang panggul akan dapat menghambat fungsi pergerakan.

 

Mengapa akhir akhir ini osteoporosis menjadi sangat populer?

            Akhir akhir ini, osteoporosis menjadi sangat populer dikalangan masyarakat. Peningkatan angka kejadian penyakit ini sebenarnya terjadi karena sejak dekade terakhir ini terdapat kecenderungan penuruna angka kelahiran dan juga penurunan angka kematian. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan  angka harapan hidup manusia yang menyebabkan meningkatnya jumlah populasi golongan lanjut usia. Hal lain yang menyebabkan osteoporosis seolah olah lebih sering dijumpai adalah karena ditemukannya alat deteksi osteoporosis yang dikenal sebagai  bone densitometer  Dual Energy X-ray Absorptiometry (DEXA).

            Sebelum dijumpainya DEXA, osteoporosis hanya dapat di deteksi  setelah penderita mengalami fraktur terutama pada tulang belakang, pergelangan tangan dan panggul. Osteoporosis juga dapat dicurigai jika terdapat gejala seperti nyeri pinggang bawah atau   pengurangan tinggi badan dan perubahan postural yang terutama terjadi pada golongan usia lanjut. Saat ini osteoporosis dengan mudah telah dapat di deteksi jauh sebelum penderita mengalami patah tulang.

 

Faktor apa yang dapat meyebabkan terjadinya osteoporosis?

 

Defisiensi hormon estrogen yang terjadi setelah menopause akan menyebabkan penurunan kepadatan massa tulang. Kepadatan massa tulang yang rendah bersama dengan meningkatnya risiko untuk terjatuh akibat usia lanjut akan menyebabkan sering terjadinya fraktur pada pergelangan tangan, tulang belakang dan tulang panggul. Penyebab osteoporosis selain menopause adalah defisiensi hormon testosteron yang terjadi pada pria. Kelebihan hormon tiroksin pada penyakit hipertiroid atau penggunaan hormon steroid yang berlebihan untuk pengobatan suatu penyakit juga dapat menyebabkan terjadinya osteoporosis. Malnutrisi juga dapat menyebabkan osteoporosis akibat kekurangan intake kalsium dan vitamin D. Penyakit kronik, keganasan dan imobilisasi yang lama juga dapat menyebabkan terjadinya osteoporosis sekunder.Faktor keturunan memiliki pengaruh yang kuat pada terjadinya osteoporosis.

 

Apa yang harus dilakukan jika anda diketahui menderita osteoporosis?

 

Penderita yang diketahui  memiliki risiko untuk menderita osteoporosis umumnya dianjurkan untuk lebih aktif melakukan latihan fisik seperti berjalan atau jogging sekurangnya 3 kali seminggu yang telah terbukti dapat meningkatkan kepadatan mineral tulang dan juga untuk mengurangi risiko terjatuh karena latihan akan memperkuat kelompok otot otot pada anggauta badan dan punggung. Seseorang yang memiliki risiko untuk menderita osteoporosis juga sebaiknya mengkonsumsi 1000 sampai 1500 mg kalsium sehari. Sumber kalsium tidak perlu selalu harus berasal dari susu. Banyak bahan makanan lain yang juga mengandung kadar kalsium yang cukup tinggi. Apakah penggunaan susu memang benar dapat menghindarkan osteoporosis masih banyak diperdebatkan. Pada kenyataannya, Swedia dan Amerika Serikat yang merupakan negara dimana konsumsi susu dan produknya sangat tinggi, saat ini juga termasuk negara yang memiliki angka kejadian osteoporosis tertinggi. Kecuali pada penderita penyakit ginjal yang memerlukan suplementasi, vitamin D umumnya sudah cukup disediakan oleh tubuh manusia yang hidup di daerah tropik yang berlimpah dengan sinar matahari sehingga tidak memerlukan suplementasi dari luar. 

            Untuk meningkatkan kepadatan massa tulang, umumnya dokter anda akan memberikan obat obatan golongan bifosfonat   seperti  sodium alendronate,  risedronate  dan ibandronate. Obat obatan lain yang dapat digunakan bila karena suatu hal bifosfonat tidak dapat digunakan antara lain adalah golongan modulator reseptor estrogen selektif,   rekombinan hormon paratiroid dan strontium ranelate.  Penggunaan terapi penggantian hormon estrogen pada wanita pasca menopause walaupun terbukti dapat menghilangkan gejala osteoporosis umumnya hanya digunakan pada penderita osteoporosis yang juga disertai dengan gejala lain dari sindroma defisiensi estrogen. 

 

Artikel kesehatan rumah sakit azra bogor 2017

 

Leave a reply